Mengenang Drama tanpa Trama

Beberapa hari ini aku membaca berita terkait seorang artis yang menggunakan obat penenang dumolid.  Kemungkinan banyak yang sudah tahu mengenai berita ini.  Tapi, aku tidak akan  menceritakan tentang kisah mereka.  Hanya saja karena kisah mereka aku menjadi teringat dengan kisah aku sendiri yang mirip-mirip, sedikit mirip, tidak begitu sama, aahh... yang penting hayuklah dibaca dulu...

Aku ingat saat itu, tahun 2014 aku mendapatkan ujian penyakit yang cukup membuatku kebat-kebit.  HNP atau dikenal dengan syaraf kejepit yang membuat hati, pikiran, dan emosi berasa dijepit setiap saat *fiyuuuhh...  

kisah awalku (saat itu) dengan HNP

Setiap hari rasanya aku gak tahu mau ngapain? Istilah yang sering aku gunakan saat itu, andai saja ada bengkel yang dengan segera memperbaiki kondisiku saat itu, tanpa ragu kuserahkan hari itu, dan menginginkan kembali baik seperti sedia kala tanpa kurang apapun dalam hitungan detik *hohoho...

Akupun berikthiar dengan berobat ke dokter karena sakit yang tidak tertahankan, waktu itu aku diberi resep obat.  Kutebus di apotik, dan voalaa..., rasa sakit yang tidak tertahankan mulai berkurang.  Rasanya aku seperti sudah sembuh hanya dengan makan obat itu.  Setelah 1 minggu, obat yang diresepkan sudah habis.  Aku berpikir obat habis, aku sembuh, masalah tuntas.  Ternyata setelah obat habis, sakitku dimulai kembali.  Tidak seperti sakit flu, justru karena sebelumnya aku merasa enakan, ketika obat habis rasanya luar biasa menjadi lebih terasa sakit.  Akupun kembali ke dokter untuk kontrol ulang dan melakukan sesi curcol mengenai obat yang di konsumsi.  Dokter mengatakan obat yang aku minum adalah obat pereda sakit.  Dan dokter dengan sukarela meresepkan obat itu kembali untuk pemakaian 1 minggu.  Sementara sambil menunggu aku melakukan pemeriksaan lain untuk memastikan kondisi sakit yang aku rasakan.

Selang 1 minggu tambahanpun berlalu.  Sesi pemeriksaan sudah mendapatkan hasil.  Lalu aku harus bagaimana? jawaban terbaik untuk menuntaskan rasa sakitku menurut dokter bisa dengan operasi.  Aku takutlah dengar penjlasan sebaik apapun kalau judulnya masih operasi. 

"Saya pikirkan lagi ya Dok?" ujarku dengan suara tidak yakin.  

Dan sementara aku memikirkan apakah aku akan mengambil keputusan operasi, aku meminta resep obat yang sama seperti sebelumnya.  Resep kembali diberikan hanya untuk 1 minggu saja.  

Seminggu berlalu, obat habis, keputusanku adalah terapi saja.  Pikirku toh bisa minta resep obat lagi saja.  Kembali menemui dokter, aku mengatakan keinginanku untuk mencoba terapi selama sebulan, dan meminta di resepkan obat untuk 1 bulan.  Dokter memberi acc.  Proses terapi dimulai, resep obat untuk 1 bulan sudah ditangan.


sumber gambar google

Setelah sekian lama aku minum obat yang diresepkan berkali-kali, akhirnya aku penasaran obat apa ini? obat yang membuatku nyaman, dan tidak merasakan sakit apa-apa.  

Obat yang aku minum waktu itu diberi nama Tramadol.  Tramal 50mg adalah obat analgesik opioid sintetis yang mengandung zat aktif tramadol hydrochloride, obat ini bekerja sentral pada reseptor sistem saraf pusat.  Obat tersebut merupakan golongan obat keras, yang ditandai dengan lingkaran berwarna merah.  Obat ini memang dijual secara bebas.  Namun apotik yang baik tidak akan memberikan obat ini tanpa resep asli yang dikeluarkan oleh dokter.  

Karena keputusanku adalah terapi, aku harus bersabar dalam menahan rasa sakit dan mengurangi penggunaan obat ini secara tegas.  Jujur yang aku rasakan ketika tidak minum obat, rasanya tidak tahan dan ingin sesegera menelan obat tersebut.  Sekujur tubuh rasanya menggigil dan keringat dingin menahan sakit.  Padahal jika aku minum obat itu kembali aku merasakan pusing dan mual.  Kondisiku jika merasakan sakit apalagi level sangat, biasanya aku menjadi sangat pendiam.  Menangis ditahan dan malas melakukan apapun.  

Rupanya aku mulai ketergantungan dengan obat ini.  Namun disisi lain aku mulai merasakan efek samping yang juga tidak baik   Bukan hanya mual dan pusing biasa.  aku merasakan vertigo, muntah-muntah hingga nyeri perut.  Tidak bisa tidur, mimpi buruk bahkan tanganku seperti bergetar sendiri.  Aku mulai curiga obat ini sudah tidak baik lagi untukku.  Aku harus mulai bermusuhan dan menjauhi obat ini.  

Aku googling dan mendapat informasi dari web alo dokter mengatakan tramadol menurut FDA bukan termasuk obat golongan narkotik, namun memiliki efek mirip narkotik.  Tramadol memberikan perasaan tenang, halusinasi dan melayang.  Jika dikonsumsi jangka panjang efek samping yang terjadi dapat mirip dengan narkotik yaitu kecanduan *hiiiyyy...  Dan bila putus obat dapat menyebabkan gejala seperti diare, depresi, sakit kepala, gemetar, halusinasi.  Persis seperti yang aku rasakan.

Stop, aku harus tetap bertahan.  Aku tidak ingin ketergantungan dengan obat yang meskipun jika aku tidak meminumnya, luar biasa nyeri yang aku rasakan.  Namun aku harus berpikir positif, bahwa kesabaran akan berbuah hasil positif.  Semangat melakukan terapi, berhenti mengkonsumsi trama, lambat laun efek samping akan mengilang seiring hilangnya kadar obat dalam darah.  

Terapi 1 bulan berlalu, rasa sakit mulai berangsur hilang, akupun sudah tidak menggunakan trama lagi.  Efek samping putus obat sudah tidak aku rasakan.  Aku memutuskan tidak jadi operasi, dan meneruskan terapi 1 bulan kembali, Hingga total terapi 3 bulan aku sudah bisa melakukan aktifitas kembali dengan normal, Alhamdulillah.

Tramadol atau apapun itu yang sifatnya sebagai obat penenang, pereda nyeri apalagi termasuk obat golongan lingkaran merah (obat keras), sebisa mungkin tidak dikonsumsi dalam jangka waktu panjang.  Bukan hanya syaraf kita yang bisa dilumpuhkan, namun organ tubuh lain terutama ginjal kemungkinan bisa terpengaruh.  Hanya ingin berpesan, bijaklah dalam menggunakan obat.  Obat bisa menyembuhkan, namun jika pemakaiannya tidak tepat justru bisa menjadi racun dalam tubuh kita.  Jika minum obat dan menimbulkan hal lain yang justru merugikan, coba amati kembali, apakah itu termasuk efek samping dari obat tersebut.  Karena setiap orang tidak memberikan respon yang sama pada dosis dan obat yang sama.  Wallahu a'lam bishawab.

Semoga kita selalu diberi kesehatan, rahmat dan berkah Allah SWT, aamiiin yaa rabbal alaamiin...


#ODOP
#bloggermuslimahindonesia

Komentar

  1. Setuju kak, bijak dalam menggunakan obat.. ^^
    Oya umi aisyah baru belajar mengatasi syaraf kejepit dengan PTB, totok punggung serta bekam..
    Mungkin bisa dicoba ka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ptb? apa tuh baru denger..
      kalo bekam, jujur ga berani selain belum pernah ketemu juga yang bs bekam perempuan :p
      totok punggung jd keinget sama film kungfu, kalo ditotok trus jadi patung, hehee

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Umi, Banyak Tips dan Trik Menudahkan Hidupmu!

DIY: Kaleng/Ember Cat Bekas Menjadi Kursi

Aku Kesepiankah?