BLW, Mengapa Tidak?

Akhir-akhir ini viral berita mengenai andien, notabene seorang selebritis yang telah memberikan makanan padat kepada anaknya diusia MPASI.  Membuat saya menjadi sedikit tergelitik bercerita mengenai metode blw yang saya gunakan juga kepada anak kedua saya.  Tidak untuk bermaksud membandingkan dengan metode lain, atau menyama-nyamakan atau apapun itu dengan metode blw yang andien atau siapapun yang melakukan hal serupa.  Yang saya tulis ini adalah murni pengalaman pribadi yang saya lakukan.

Sebelum jauh saya bercerita apa yang saya alami, perlu kita ketahui dulu bahwa
BLW adalah singkatan dari baby led weaning.  BLW adalah metode proses menyapih dengan cara membiarkan bayi untuk memimpin seluruh proses, menggunakan naluri dan kemampuan mereka. Bayi menentukan saat menyapih dimulai dan berakhir.  Meskipun terdengar ganjil, sangatlah masuk akal melihat secara dekat bagaimana mereka berkembang. (Rapley et al, 2008: 2)
Alasan BLW menurut saya masuk akal, bayi, anak-anak belajar berguling, berjalan bahkan bicara ketika mereka siap.  Siap di sini maksudnya adalah perkembangan akan cepat terjadi jika mereka diberi kesempatan dan mereka akan bisa sesuai dengan kemampuannya masing-masing.  Poin disini yang saya rasakan adalah memberikan mereka kesempatan.  Yang jadi pertanyaan, mengapa pemberian makanan dilakukan secara berbeda?

Yang saya alami ketika selesai melakukan proses melahirkan kemudian dilanjutkan dengan inisiasi menyusui dini, pada saat itu, seorang bayi yang baru dilahirkan sudah memiliki naluri merayap dan dan mendekat menuju proses menyusui secara mandiri.  Semua terjadi secara alami.  Dengan berjalannya waktu di usia sekitar 6 bulan mereka bisa meraih dan mengambil potongan makanan dan memasukkannya ke dalam mulut mereka sendiri.

Pengalaman pada anak pertama saya, saya menyapihnya secara konvensional, dengan penuh kesabaran dan terkadang adanya tegang urat ketika sesuatu yang disuapkan kemudian disemburkan dan ketakutan adanya kelaparan jika anak tidak menghabiskan porsi yang saya pikir harus selalu dihabiskan.  Namun, dengan anak kedua, saya menjadi lebih terasa santai dan bahkan cenderung 'membiarkan' bayi saya menikmati makannya bersama abangnya.

Ketika proses anak pertama saya disuapi (Selalu) menjadi sedikit rewel soal makanan.  namun dengan proses pembiaran anak kedua, akemi menjadi lebih berani mencoba makanan baru atau berpetualang dengan rasa.  Yang saya tangkap dari metode yang berbeda adalah, anak pertama saya terbiasa untuk dipilihkan, disuapin dan dirayu dengan berbagai macam cara.  Sementara anak kedua, saya menawarkan, dia ikut menikmati makan bersama kami semua, kemudian mencoba dan akan terus melahap makanannya ketika dia masih merasa ingin.

Makan pisang tanpa dilumat (foto: dokumen pribadi)

Meskipun dikatakan metode blw adalah bayi diberikan kesempatan memilih makanan sendiri, namun jangan diartikan mereka dapat memakan apa saja.  Maksudnya di sini adalah memberikan kesempatan pilihan memakan makanan yang berbentuk solid bukan hancur dan tidak berbentuk.  Makanan yang terbaik di awal MPASInya adalah tetap merupakan makanan bergizi yang diproses tidak terlalu lama tanpa garam dan gula maupun msg, dengan bentuk yang bisa ditangani oleh seorang bayi.  Selain itu, saya belum memberikan kacang-kacangan utuh diawal perkenalan makannya.  Sayapun tetap memberikan ASI tanpa campuran sufor untuk mendukung jenis minumannya dan tentu saja air putih adalah daftar minumannya yang lain.

Awal adaptasi di bulan-bulan pertama, saya memberikan akemi buah-buahan dan sayuran dengan bentuk utuh.  Dengan proses merebus/mengukus terlebih dahulu.  namun tidak dilumatkan, hanya dipotong-potong sesuai dengan ukuran tangannya yang mungil

Makan buah denan ptongan yang dapat dipegang (foto : dokumen pribadi)

Namun dengan proses menirunya, sayapun memberikan akemi nasi lembek dipiring dengan sendoknya.  Disini metode BLW menekankan untuk memberikan kesempatan kepada bayi menikmati proses makannya.

Memberikan kesempatan mengeksplorasi makan dengan suapannya sendiri (foto:dokumen pribadi)

Pada awalnya saya merasa panik, apakah makanan yang dimakan dapat memenuhi asupan kebutuhannya.  Namun saya menekankan bukan jenis makanannya yang berbeda, namun metode yang digunakan adalah membiarkan makanan tersebut terlihat seperti bentuknya, dan memberikan kesempatan mereka menikmati makanannya secara mandiri.  Berbeda dengan membuat makanan setiap saat yang diberikan dengan cara mencampurnya, menghaluskan dan menyuapinya sehingga menjadi bentuk makanan yang seragam.  Artinya sayapun memberikan nasi lembek, dengan potongan ikan, dan sayur-sayuran secara terpisah.  Jenis makanan yang saya berikan tentu saja sesuai dengan kultur budaya di keluarga.  Tidak berarti memaksakan jenis makanan sama dengan yang keluarga lain biasa berikan.

Memakan potongan buah jeruk dengan bentuknya yang asli memberikan 
kesempatan akemi, mengetahui sesuatu yang ia lumat adalah sebuah jeruk 
dengan citarasa manis keasaman. (Foto : dokumen pribadi)

Tips yang saya gunakan adalah, saya tidak memberikan makanan langsung dalam jumlah besar sekaligus, namun saya memiliki persediaan lebih banyak daripada kebutuhannya.  Jika dia menikmati dan menginginkannya, maka proses meminta kembali akan terjadi.  Ada kalanya akemi menolak, namun bukan artinya tidak membutuhkannya.  Dia hanya tidak menginginkannya saat itu, ketika beberapa saat ditawarkan kembali, maka yang terjadi adalah dia akan mencoba memakannya kembali.  Berbagi makanan dan makan bersama denngan bayi terasa menyenangkan.  Akemi sangat mudah meniru kami semua yang lebih besar dalam menggunakan sendok.

Makan bersama membuatnya ingin mencoba menggunakan sendok sendiri (foto : dokumen pribadi)

Menggunakan sebuah metode tentu saja ada sisi positif dan negatifnya, hanya saja saya merasakan hingga akemi menjelang usianya yang ke 2 tahun, saya merasakan manfaatnya dari metode blw adalah:
- Akemi dapat belajar banyak jenis makanan dengan bentuk dan rasa yang berbeda.  Bahkan diusianya yang 1,5 tahun, akemi dapat mengetahui beberapa rasa makanan dari gambar ataupun bahan makanannya langsung.  Akemi juga dapat mengeluarkan tulang ikan yang tanpa sengaja tertinggal dipotongannya tanpa memuntahkan semua makanan yang ia masukkan kedalam mulutnya.  Hanya sebuah tulang ikan yang terselip dengan menggunakan tangannya, dan tanpamembuatnya tersedak.  Apalagi mengunyah ayam goreng dengan memegangnya secara mandiri tanpa dipisahkan dari tulangnya.
- Akemi secara alami menggunakan tangan dan mulutnya terhadap makanan dengan caranya sendiri
- Akemi dapat mengatur sendiri seberapa banyak, seberapa besar jumlah makanan yang masuk kesalam mulutnya.
- Meskipun tekstur yang diberikan berbagai jenis, dari licin, kesat, kasar, halus, sedikit panjang, sedikit besar, akemi mampu belajar menggenggam dengan kuat tanpa menjatuhkannya atau menghancurkannya.  Dia menjadi percaya diri untuk melakukan banyak hal sendiri.  Secara tanpa sadar mempengaruhi hal lainnya yang membuat akemi berani dan terus mencoba hal baru yang ia inginkan.
-Akemi juga menjadi percaya untuk mencoba makanan baru yang ia lihat.  Dengan diusianya kurang dari 2 tahun, akemi sudah mampu memakan jenis makanan dari kultur budaya kedua orangtuanya.  Dia mencoba pindang ikan yang merupakan makanan khas budaya babahnya dan juga menyenangi rendang yang merupakan makanan khas asal budaya uminya.  Tidak menjadi panik ketika rasa makanan tersebut agak sedikit pedas, panas, asin, manis dan berbagai citarasa diusianya kurang dari 2 tahun ini.
- Dengan kemampuan makannya yang terus berkembang, proses makan diluar menjadi sangat mudah bahkan ketika diusianya akemi belum memasuki usia 1 tahun.  Ia dapat ikut makan bersama dengan saya dipiring yang sama.

Akemi diusianya saat itu 15 bulan sudah fasih makan mie 
menggunakan garpu, tangan dan caranya sendiri (Foto :dokumen pribadi)

Sementara kerugian yang sebenarnya tidaklah menjadi sebuah hal mencemaskan bagi saya karena hal itu adalah sebuah bagian dari proses adalah BERANTAKAN!.  Yuup.., memang sedikit berantakan, terkadang lumayan.  Pada awalnya dan lebih singkat dari yang dibayangkan.  karena akemi semakin mahir makan dengan rapi tanpa tumpah banyak disana-sini karena banyak diberikan kesempatan menikmati makanannya sendiri.

Jadi apakah kamu berminat menggunakan metode BLW?

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Umi, Banyak Tips dan Trik Menudahkan Hidupmu!

DIY: Kaleng/Ember Cat Bekas Menjadi Kursi

Aku Kesepiankah?